Taliban: Perempuan Afghanistan Mendapatkan Bantuan dari Kelompok Advokasi di Seluruh Dunia (Lihat Caranya)


Hak dan kehidupan perempuan di Afghanistan berada dalam risiko akibat pengambilalihan negara oleh Taliban.
Antara tahun 1996 hingga 2001, ketika Taliban berkuasa, perempuan dilarang mengakses sekolah dan pekerjaan. Anak perempuan tidak diizinkan bersekolah, dan perempuan hanya boleh terlihat di depan umum dengan pendamping laki-laki dan tubuh mereka tertutup sepenuhnya. Ketidakpatuhan terhadap peraturan ketat ini mengakibatkan hukuman berat mulai dari pemukulan hingga eksekusi.

Hak-hak perempuan di Afghanistan telah membaik sejak tahun 2001. Jumlah anak perempuan yang mendaftar di sekolah meningkat, sementara angka kematian anak menurun. Namun, jika Taliban kembali berkuasa, kemajuan itu dapat dengan cepat terbalik.
Menurut Shabia Mantoo, juru bicara Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa, 80 persen dari sekitar 250.000 orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka di Afghanistan sejak akhir Mei adalah perempuan dan anak-anak. Menurut sebuah studi PBB yang dirilis bulan lalu, jumlah perempuan dan anak-anak yang tewas dan terluka melonjak pada bulan Mei dan Juni, hampir bersamaan dengan dimulainya penarikan pasukan AS dan pasukan asing lainnya dari Afghanistan.

“Tolong ingat para perempuan dan anak perempuan Afghanistan dalam doa kalian. Sebuah tragedi terjadi tepat di depan mata kita,” kata Direktur Eksekutif UN Women, Phumzile Mlambo. “Kami terus mengawasi dengan saksama situasi di #Afghanistan. Kelompok kami aman. Mereka sedih, tapi tenang, dan mereka berlindung di lokasi mereka saat ini,” menurut organisasi tersebut.

Related Posts
828 Comments
Join the discussion and share your thoughts








